30 Juli, 2013

Tata Kelola Air untuk Menunjang Efektivitas dan Efisiensi Budidaya Tebu Di Kab. Merauke

Latar Belakang Permasalahan Lokasi pengembangan nursery budidaya tanaman tebu adalah padang rumput dengan vegetasi yang tebal. Topografi lahan bersifat datar dengan ketinggian 5 m dari permukaan air laut. Tanahnya bersifat aquamorfik yakni akan berubah fisik pada kondisi kelebihan dan kekurangan air. Jika kondisi kelebihan air sampai tergenang, fisik tanah akan berubah menjadi lembek dan mudah amblas. Sedangkan pada saat kekurangan air, tanah akan berubah keras dan padat. Kondisi ini pada dasarnya disebabkan karena struktur tanah didominasi oleh elemen debu (60%), Di tahun pertama kegiatan nursery berlangsung, proses penyiapan media tumbuh tanaman tidak berjalan efektif karena terdapat banyak genangan air (water lock) di areal kebun. Drainase kebun yang dikerjakan selain tidak mampu menurunkan level muka air tanah, juga tidak sanggup menampung luapan air pada saluran ketika hujan datang (run-off) dan tidak lancar mengalirkan air keluar dari kebun. Aplikasi alat berat farm tractor tidak bisa dilakukan pada proses pengolahan tanah karena sifat fisik tanah yang aquamorfik ini. Kondisi lahan yang banyak terdapat water lockmembuat tanah mudah amblas pada saat farm tractorberoperasi sehingga kegiatan pengolahan lahan terpaksa menggunakan traktor tangan (hand tractor) yang berimplikasi pada hasil pengolahan lahan berkualitas rendah. Kedalaman olah lahan sangat dangkal dan terjadi kerusakan pada struktur tanah, khususnya karena pengolahan lahan dilakukan dalam kondisi basah. Hal ini juga memicu tingginya biaya operasional pengolahan lahan. Proses penyiapan media tanam yang serampangan juga mempengaruhi kualitas pertumbuhan tanaman. Level muka air tanah yang dangkal, yakni 18 – 42 cm dari permukaan lahan adalah penyebab utama pertumbuhan tanaman yang di bawah harapan, seperti yang disampaikan ahli tebu dari Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI). Muka air tanah yang dangkal akan merusak efektifitas perakaran tanaman tebu dalam tanah (efektifitas perakaran 30 cm). Akibatnya akar tanaman membusuk dan tidak optimal dalam menyerap unsur hara dan oksigen yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Pada akhirnya, tanaman tebu menjadi pendek, kerdil, dan menderita klorosis/menguning. Jadi, dapat disimpulkan bahwa dampak yang ditimbulkan dari tata kelola air sangat signifikan bagi pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, dibutuhkan perbaikan (improvement) untuk mengatasi terjadinya water lockdalam areal kebun, sehingga level air tanah bisa diturunkan sampai pada zona aman bagi perakaran tebu serta air dapat mengalir lancar keluar dari kebun (exiting). Target Improvement 1. Menghindarkan terjadinya water lockpada area kebun, khususnya pada saat musim hujan; 2. Menurunkan level air tanah hingga zona aman perakaran efektif tanaman tebu; 3. Membuang air berlebih ke luar kebun dengan lancar; dan 4. Memastikan aplikasi mekanisasi pada kegiatan budidaya tebu dapat diterapkan sesuai praktik yang baku. Rencana Kerja Improvement (Plan) a. Identifikasi Banyak terdapat water lockdalam areal lahan, tinggi muka air tanah yang dangkal, runoffpada saat hujan berlangsung lama, dan air tidak lancar mengalir ke pembuangan menyebabkan aktivitas budidaya tanaman tebu yang dilakukan pada tahun pertama nurseryjadi terhambat terutama pada saat pengolahan lahan dan berdampak pada pertumbuhan tanaman yang diperoleh. Genangan air terlihat pada hampir semua petak kebun memastikan bahwa praktik berkebun yang dilakukan sebelumnya tidak sesuai dengan kaidah umum yang berlaku. Hal tersebut jelas berisiko pada tingginya biaya operasional dan tidak optimalnya hasil yang diperoleh. Permasalahan yang dihadapi adalah sebagai berikut: 1) Spesifikasi drainase terlalu kecil. 2) Beda tinggi areal kebun dengan lokasi pembuangan air tidak ekstrim (relatif datar). 3) Terdapat beberapa saluran sekunder petak kebun yang tidak terkoneksi ke saluran pembuangan (primer). 4) Saluran drainase tidak mampu menurunkan level air tanah pada areal kebun. 5) Limpasan air dari pemukiman warga memberikan beban tambahan pada saluran drainase kebun. 6) Rawa Mayu sebagai lokasi pembuangan air drainase kebun terkoneksi dengan saluran drainase pemukiman warga sekitar yang volume airnya jauh lebih besar dibandingkan dengan volume air dari drainase kebun. b. Analisa Saluran-saluran drainase yang dibuat dalam areal kebun dengan spesifikasi 40 x 60 cm tidak dapat menampung run-offakibat air dalam saluran tidak mengalir dengan lancar ke pembuangan. Posisi tempat pembuangan hampir rata dengan saluran drainase dalam kebun sehingga laju air mengalir lambat, menyebabkan terjadinya run-off, dan akhirnya petak kebun tergenang air. Saluran–saluran sekunder petak kebun pada bagian tenggara dan selatan areal menggunakan long pondsebagai pembuangan akhir air (exiting), sementara level muka air pada long pondmemiliki ketinggian yang sama dengan level muka air pada saluran-saluran sekunder tersebut. Genangan air yang terjadi sangat ekstrim, bahkan sampai berbulan-bulan lamanya yang mengganggu pertumbuhan tebu secara signifikan. Genangan air menyebabkan tanah terdispersi menjadi agregat-agregat partikel yang membentuk lapisan padas/kedap air pada subsoil dan lumpur pada top soil. Ini memicu kurangnya proses aerasi tanah dan memperlambat laju infiltrasi air ke dalam tanah. Lokasi pembuangan air (Rawa Mayu) yang terletak di sebelah utara areal kebun mempunyai beda ketinggian yang tidak ekstrim dengan areal kebun sekitar 1 – 2 meter (kemiringan 0,2%). Outlet saluran menuju saluran pembuangan Rawa Mayu juga menanggung beban air dari saluran drainase pemukiman sekitar yang volumenya jauh lebih besar dibandingkan dengan volume air dari dalam areal kebun. Pada outlet saluran terjadi antrian air yang besar sehingga air dari drainase pemukiman sebagian mengalir masuk ke saluran drainase kebun. Antrian yang terjadi di outlet saluran pembuangan terjadi karena diameter gorong-gorong pembuangan sangat kecil (50 cm), sehingga kapasitas volume air yang bisa melewati gorong-gorong menjadi terbatas. Tidak lancarnya air mengalir ke pembuangan membuat level air tanah naik drastis sampai pada level menggenang dalam waktu lama. Hasil penelitian menyebutkan bahwa batas waktu genangan yang masih diperbolehkan di areal perkebunan tebu tidak boleh lebih dari 2 x 24 jam. Genangan yang tinggalnya melebihi batas waktu tersebut akan menyebabkan akar tanaman terganggu. Karena akar tebu tidak bisa menyerap oksigen di dalam air (berbeda dengan tanaman padi), maka genangan yang terlalu lama akan membusukkan akar, sehingga pada akhirnya tanaman tidak tumbuh (kerdil) dan menguning (klorosis). Tata kelola air merupakan permasalahan utama yang harus dituntaskan agar tanaman yang sudah tumbuh dapat diselamatkan dan juga aktivitas pengolahan lahan dan perawatan tanaman pada periode tanam berikutnya dapat berjalan efektif dan efisien. Oleh karena itu kegiatan ini dilakukan untuk mewujudkan kondisi tersebut. c. Formulasi rencana tindakan 1) Melakukan survei dan identifikasi kondisi lahan secara keseluruhan. 2) Mempelajari pola aliran air secara alami serta mencari lokasi pembuangan air yang memiliki beda ketinggian yang cukup ekstrim terhadap area kebun. 3) Melakukan studi literatur, berdiskusi dan mempelajari masukan yang disampaikan oleh para ahli dari P3GI dan partner investor kebun di Merauke. 4) Membuat desain rencana lay-outsistem drainase. 5) Pelaksanaan rekonstruksi saluran drainase. 6) Telaah (review) dan evaluasi hasil pelaksanaan improvement Studi Benchmarking yang dilakukan a. Judul studi benchmarking Studi benchmarkingdilakukan secara informal dengan berkunjung pada kebun bibit yang dikelola oleh PT Rajawali Korpora di Merauke. Benchmarkingjuga dilakukan dengan mempelajari literatur dan informasi yang diberikan oleh para ahli dari P3GI tentang pengelolaan air pada kebun tebu yang banyak terdapat di Pulau Jawa. b. Uraian hasil benchmarking Pada dasarnya lebih mudah melakukan tata kelola air di kebun bibit PT Rajawali Korpora mengingat level ketinggian dan ukuran drainase pembuangan relatif memadai untuk menampung kelebihan air dari kebun. Walaupun permukaan air tanah di sana masih dangkal, namun kelebihan air dipastikan mengalir keluar kebun dan tidak tergenang dalam tempo lama. Studi literatur dan informasi pengelolaan kebun tebu di Pulau Jawa menunjukkan bahwa keberadaan drainase di dalam kebun yang dikonstruksi dengan cermat dan penuh perencanaan (termasuk lay-outdan perhitungan kemiringan lahan), khususnya yang dikenal dengan Sistem Reynoso, dapat membawa hasil optimal dan sesuai harapan. c. Lesson learnedyang diperoleh untuk diterapkan pada improvement Perlu rekayasa ulang drainase di dalam kebun, yang mempertimbangkan kemiringan lahan, debit air, beda ketinggian dan ukuran daya tampung drainase pembuangan, dan penggunaan instrumen pintu air. Rekayasa ulang ini meliputi penyiapan desain lay-out kebun yang benar dan akurat, pembuatan peta topografi, rekonstruksi drainase dan fasilitas pendukung tata kelolaair. Pada hasil rekayasa ulang ini harus dilakukan monitor dan pengawasan secara reguler sehingga dapat berjalan sesuai harapan. Pelaksanaan Improvement (Do) a. Sumber daya yang digunakan Sumber daya yang digunakan pada pelaksanaan improvementadalah: peralatan pengukuran yang disewa dari luar perusahaan, karyawan sebagai tenaga pengukuran dan pembuatan desain layout, serta pelaksanaan konstruksi saluran drainase dari kontraktor. b. Usaha yang dilakukan 1) Melakukan survei kondisi lahan secara keseluruhan. 2) Mempelajari pola aliran air secara alami serta mencari lokasi pembuangan air yang memiliki beda ketinggian yang cukup ekstrim terhadap area kebun. 3) Melakukan studi literatur dan berdiskusi dan mempelajari masukan yang disampaikan oleh para ahli dari P3GI dan partner investor kebun di Merauke. 4) Mendiskusikan hasil survei untuk membuat work instructiondan rekomendasi improvement. 5) Memastikan perizinan secara formal dari Pemerintahan dan informal dari para pemilik lahan disekitar kebun. 6) Membuat desain rencana lay-outsistem drainase. 7) Mengukur kapasitas volume kerja dan biaya pelaksanaan rekonstruksi saluran drainase. 8) Pelaksanaan rekonstruksi saluran drainase, termasuk pembuatan pintu air, yang disupervisi secara kontinu. 9) Review dan evaluasi hasil pelaksanaan improvement. 10) Penetapan standar level air tanah yang aman bagi pertumbuhan tanaman tebu.